Header Ads

World Health Mental Day 2019, Rahmawati: Percaya Bahwa Kamu Tidak Sendiri

Illustrasi orang dengan gangguan kesehatan mental. (sumber: docsopinion.com)




OrangeNews(10/10) - Bertepatan pada hari ini,  diperingati sebagai World Health Mental Day 2019 yang jatuh setiap tanggal 10 di bulan Oktober. Hari besar perayaan ini mulai diadakan sejak tahun 1992 oleh World Federation for Mental Health untuk meningkatkan kembali kesadaran setiap individu bahwa penting bagi mereka dapat sehat secara mental.  Untuk tema tahun ini adalah Mental Health Promotion and Suicide Prevention atau Promosi Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri, sebagaimana dikutip dari laman resmi Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH). Tema tahun ini justru penting, pesannya bahwa setiap 40 detik terjadi kematian akibat bunuh diri karena depresi, jika dihitung dalam sehari maka akan ada berapa banyak orang yang melakukan bunuh diri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melaporkan setiap detik terdapat satu orang yang melakukan bunuh diri di seluruh dunia. Total terdapat 800 ribu orang yang tercatat melakukan bunuh diri tiap tahunnya, jumlah itu bahkan lebih parah dibanding jumlah orang yang terbunuh dalam perang.  "Bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat global. Seluruh usia, jenis kelamin dan wilayah dunia terpengaruh (dan) setiap kehilangan adalah satu terlalu banyak," kata laporan WHO, seperti  dikutip Reuters oleh CNN Indonesia.

Dalam ourworldindata.org menunjukkan tingkat kematian karena bunuh diri per 100 ribu penduduk di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir cenderung menurun. Tingkat bunuh diri di Indonesia tidak terlalu parah dibanding negara-negara lain, namun fenomena bunuh diri bukanlah sesuatu yang bisa diungkap dengan mudah. Masalah lebih  banyak berada di sudut gelap aib keluarga, tak boleh kelihatan, luput dari jangkauan survey.

Kesejahteraan psikologis pada tiap individu pasti berbeda, setiap individu memiliki harapan untuk bisa sejahtera dalam arti mereka ingin untuk bahagia, tidak punya tekanan, dan bisa menjalani aktivitas kehidupan nya dengan baik. Pentingnya kesadaran akan kesahatan mental juga di pertegas oleh Dosen Bimbingan Konseling Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Rahmawati.

"Kenapa sehat secara mental itu menjadi penting, karena orang kalau misalnya tidak sehat secara mental itu efeknya banyak bisa lari ke fisik juga. Orang yang depresi tidak melakukan aktivitas tertentu, diam di rumah fisiknya juga pasti akan terganggu, tidak sehat, asupan oksigen kurang, pikiran juga terganggu dan lainnya. Itulah kenapa mental health itu penting" Tuturnya.

Selain harus berjuang melawan depresi, orang dengan gangguan depresi kerap kali harus melawan stigma buruk yang disematkan pada mereka. Hal ini kemudian menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diketahui bagaimana mereka bisa mendapatkan stigma buruk tersebut dari lingkungannya. Namun dengan adanya percepatan perkembangan teknologi banyak orang yang mulai berfikir terbuka dan melihat permasalahan kesehatan ini tidak lagi sebagai momok yang menakutkan. Mengingat kasus kesehatan mental yang terjadi di wilayah Banten sendiri masih terbilang cukup tinggi.

"Stigma buruk itu sebenernya kalau dalam dekade beberapa tahun ini jauh lebih rendah dengan adanya sosial media. Bagaimana para survival survival, orang yang pelaku bunuh diri kemudian survive untuk menjadi founder atau bisa menjadi bagian jadi support sosial bagi orang lain itu sebenernya sudah banyak." Tambah Rahmawati.

Setiap orang rentan sekali terkena gangguan kesehatan mental. Berapapun umur mereka, di tiap tahapan perkembangan memiliki potensi untuk terkena gangguan kesehatan mental apalagi kalau melihat sistem pendidikan di indonesia yang terlalu cepat mengenalkan stress.

Permasalahan beban belajar ini juga kerap kali menimpa mahasiswa. Untuk itu banyak mahasiswa berharap setiap kampus memiliki layanan konseling gratis yang dapat digunakan untuk menampung keluh kesah mahasiswa yang terjadi di perkuliahan. Hal ini sama seperti yang diharapkan oleh Nida, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2018 mengenai layanan konseling gratis di kampus.

"Harapan saya mengenai permasalahan kesehatan mental ini sih seharusnya kampus kita Untirta ini menyediakan konsultasi gratis untuk mahasiswa mahasiswa yang mengalami gangguan mental itu sangat berguna sekali untuk mahasiswa karna pasti ada mahasiswa yang memiliki permasalahan terkait mental nya karna tugas, organisasi, permasalahan sosial dan lainnya."

Terkait layanan konseling ini sebenarnya Untirta sendiri sudah mempunyai Layanan Konseling Gratis bagi mahasiswa. SK (Surat Keterangan) dan SDM (Sumber Daya Manusia)nya pun sudah tersedia. Hanya memang belum ada ketersediaan tempat untuk melakukan konsultasi tersebut. Biasanya mahasiswa yang melakukan konsultasi adalah mahasiswa rekomendasi para dosen pembimbing yang memang sudah mengerti akan permasalahan mahasiswa.

Pesan yang ingin disampaikan oleh Rahmawati untuk orang-orang yang masih berjuang melawan kesehatan mental yakni, "Percaya bahwa kamu tidak sendiri. Silahkan bercerita jika memang membutuhkan tempat untuk bercerita. Jangan berusaha untuk memendam itu, dan yakin you're not alone." Tutup Rahmawati.

Reporter: Aulia, Liza, Alfi

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.