Header Ads

[ Osami Edisi 30 ]


Surat Terbuka untuk Seluruh Elemen Bangsa: “Merdeka Tuk Papua”



Oleh: Sukmasih

Sumber Foto: Jawapos

Merdeka! Begitulah seruan penduduk tanah timur Indonesia. Ada berbagai makna dari seruan merdeka ini. Sebagian menyerukan kata merdeka untuk menuntut hak berdiri sendiri, sebagian menyerukan kata merdeka untuk memperjelas status kebangaan Indonesia mereka. Merdeka! Begitulah seruan penduduk tanah timur Indonesia. Sebagian berusaha mengibarkan bendera bintang kejora. Sebagian berlari memasuki rumah, mengambil sang merah putih dan kembali keluar. Berteriak dengan lantang, “kita orang merah putih!” Untukmu, para kaum politisi. Janganlah engkau diskusi tentang kursi. Sebab menteri pun belum sah diganti. Tak dengarkah engkau teriakan menyayat hati, mereka terluka karena dianggap berbeda.

Untukmu, para kaum akademisi. Janganlah engkau terlena dengan globalisasi atau sibuk berorganisasi tanpa menyadari diskriminasi yang nyata terealisasi. Tak ingatkah engkau pada status terdidik? Lalu mengapa kau biarkan diskriminasi terus terjadi?

Untukmu, para kaum pendidik. Janganlah engkau sibuk berteori. Sampaikan materi tanpa mengindahkan praktik. Bukalah matamu, diskriminasi, persekusi, rasialis adalah bentuk gagalnya jiwa pancasilais tertanam. Tak terenyuhkah kau melihat anak ibu pertiwi yang sedang berdemonstrasi karena sakit hati?

Untukmu, para elit pemerintahan. Kursi jabatan telah kau dapatkan. Hendaknya kini kau jalankan kewajiban. Berikanlah hak kemerdekaan. Merdeka dalam pendidikan, merdeka dalam pembangunan, merdeka dalam peradaban agar putra bangsa di ujung timur tak merasakan adanya perbedaan.

Untuk kita semua, seluruh anak bangsa. Jangan pernah berpikir merdeka hanya berarti memisahkan diri, bisa jadi merdeka bermakna menuntut hadirnya adil. Rasialis adalah kegagalan tertanamnya pancasilais dalam diri. Maka mari koreksi diri, sampai dimana toleransi tertanam dalam diri?

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.