Header Ads

[Osami Edisi 29]



Oleh : Sukmasih

Bagaimana Akal Meninggikan Derajat Manusia?


Manusia seringkali dipredikati sebagai makhluk sempurna ketika dibandingkan dengan makhluk lain. Namun, perlu ditegasi bahwa manusia bukanlah makhluk suci yang lepas dari kata revisi.

Akal membuat manusia disebut sempurna. Akal telah membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya. 

Ketika kita membandingkan manusia dengan hewan, maka jelas perbedaannya. Bahwa manusia tidak menggunakan naluri alamiahnya seperti hewan. Manusia mengoptimalkan akal sehingga ia dapat mengelola sesuatu menjadi lebih baik. 

Namun, bagaimana ketika kita membandingkan manusia dengan makhluk transenden yang diciptakan Tuhan? 

Dalam kuliah ilmu politik, saya mendapat pembahasan mengenai bagaimana Tuhan menurunkan sesuatu yang disebut kekuasaan kepada manusia. 

Dalam kuliah tersebut, dijelaskan mengenai manusia menjadi sempurna karena akal sehingga diturunkan kepadanya sebuah kekuasaan. 

Ada dua makhluk transenden yang diciptakan sebelum manusia. Dan inilah perbedaannya dengan manusia. 

1. Malaikat
Dalam riwayat Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa malaikat tercipta dari cahaya. Dalam kuliah setahun lalu saya ikuti, dijelaskan bahwa malaikat memiliki potensi dasar untuk mengenali dirinya sendiri, tetapi tidak memiliki kehendak bebas. Karena tidak memiliki kehendak bebas, maka malaikat tidak berpikir kreatif. Hal inilah yang akhirnya membuat malaikat hanya menjalankan perintah. 

2. Jin
Dalam riwayat Tafsir Ibnu Katsir juga dijelaskan bahwa Jin tercipta dari nyala api. Dalam kuliah yang sama, saya mendapat penjelasan bahwa Jin juga memiliki potensi dasar mengenali dirinya sendiri, namun berbeda dengan malaikat, Jin memiliki kehendak bebas. 
Jin dikaruniai benih pola pikir rasional (ini jelas ketika Iblis yang berasal dari bangsa Jin dikisahkan  melawan perinta Allah untuk sujud kepada Adam. Hal ini disebabkan Iblis merasa derajatnya lebih tinggi karena tercipta dari api.) Ini adalah bibit pemikiran rasional karena api memang dapat membakar habis sesuatu. Namun, kekurangan dari Iblis adalah, keinginan bebasnya dan rasionalitasnya tidak di imbangi dengan pola pikir kreatif. Sehingga cara berpikirnya pun tidak optimal. Saya pikir, karena hal ini Iblis terusir dari surga. Rasionalitasnya tidak diikuti strategi yang kreatif. 

3. Manusia
Sama seperti yang kita ketahui, bahwa manusia tercipta dari tanah. Di beberapa kitab agama samawi lain dikatakan manusia tercipta dari debu. Manusia juga memiliki potensi dasar mengenali dirinya. Manusia memiliki kehendak bebas dan Tuhan melengkapi manusia dengan akal. Sehingga manusia memiliki pola pikir rasional dan kreatif. 
Akal membuat manusia dapat mengelola dan mengambil keputusan. Sehingga terbentuklah kehidupan sosial seperti saat ini.

Kesimpulannya, kita perlu memahami, bahwa Tuhan telah memberikan akal kepada manusia bukan hanya untuk berpikir secara rasional, sebab jika hanya tentang rasional bangsa Jin pun memilikinya. Akal yang manusia miliki berguna untuk menyeimbangkan rasionalitas kita, sehingga kita dapat berkreatifitas. Maksudnya, manusia bukan hanya akan melihat sisi rasional, namun juga dapat melihat sisi lain. Dari akal sehat maka lahir budi pekerti, kemudian inilah yang disebut etika dan akan melahirkan budaya. Akal berbeda dengan otak. Jika otak berguna untuk memikirkan tindakan apa yang akan kita lakukan, maka akal berguna memikirkan  apa akibat dari tindakan yang kita lakukan. 

Mengapa derajat manusia dikatakan lebih tinggi jka banding makhluk lain? Karena akal yang dimiliki manusia menuntun pada etika. Etika lah yang membedakan manusia dengan makhluk lain.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.