Header Ads

OPINI : Tak Akan Ada Asap Jika Tak Ada Api

Sumber Foto : Google

Penulis : Liya Apriyani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untirta 2018


Sebelumnya saya hanya ingin menyampaikan atau mengutarakan kersahan apa yang saya rasakan, tidak ada sama sekali bentuk apapun dari tulisan ini, karena ini hanya merupakan opini pribadi saya, setelah membaca dan melihat beberapa berita . mungkin kita semua pasti sudah mengetahui berita nya, jadi tidak perlu menjelaskan secara panjang lebar, mohon maaf
sebelumnya jika ada salah kata. 

Sudahkah Indonesia berfikir? sempatkan pemerintah merenungkan nasib penduduk papua, sebenarnya jika kita berfikir tidak mungkin akan adanya keretakan bahkan sebuah perpecahan jika tidak adanya penyebab. Karena sudah menjadi hukum alam jika ada akibat maka sudah pasti adanya sebuah sebab. seperti dianalogikan kita berada dalam satu ruang dimana pada ruang tersebut kita tidak mendapatkan, apa yang diharapkan dan diinginkan. Tidak terpenuhi hak nya dan merasakan sesuatu yang membuat kita justru ingin meninggalkan ruang tersebut. contoh kecilnya mungkin sebuah organisasi, ketika kita berada dalam sebuah organisasi yang kita sendiri tidak merasakan adanya sebuah kenyamanan yang seakan tidak menganggap keberadaan kita. 

Sekarang pertanyaannya adalah apakah kita akan tetap bertahan? atau lantas memberontak untuk memenuhi hak dan kewajiban itu?? 
sama hal nya dengan apa yang dirasakan saudara sebangsa kita,ya papua yang merupakan salah satu provinsi yang ada di Indonesia. dimana ia berada namun selalu mengalami konflik dan merasakan keterindasan yang secara tidak langsung. ya bisa dibilang luka yang dibalut sebuah senyuman kekezaman rezim. saat mereka  meraskan tindakan fasis dan Rasis dari aparat kepolisian pemerintahan sekarang. padahal kasus kasus sebelum nya pun sudah mencederai mereka sehingga membuat luka pada penduduk papua.seharusnya bisa berkaca kenapa masyarakat papua menumpahkan kekecewaannya di Jayapura, ibu kota Papua, dan di Manokwari, ibu kota Papua Barat, serta Kota Sorong untuk menuntut rasialisme terhadap orang Papua harus dihentikan. 

"Pembubaran Diskusi "
Demonstrasi memperingati 1 Desember 2017, yang dianggap sebagai hari kedaulatan Papua, di kantor PT Freeport Indonesia di Jakarta dilarang oleh polisi. Setelah negosiasi, aksi itu diizinkan digelar di dekat Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia: 285 demonstrasn dijaga oleh 400 personel polisi dan tiga mobil rumah tahanan.
Di Malang, pada 1 Juli 2018, diskusi Aliansi Mahasiswa Papua dibubarkan oleh kelompok ormas dan dikawal Polres Malang Kota. 

Enam hari kemudian, di Surabaya, diskusi dan pemutaran film “Peringatan 20 Tahun Peristiwa Biak Berdarah (1998)” di asrama mahasiswa Papua dibubarkan oleh aparat gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP dengan alasan Operasi Yustisi. Sempat saling dorong, di tengah situasi, ada aparat diduga melakukan kekerasan seksual terhadap aktivis perempuan Anindya Joedino.

Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara, dalam komentarnya untuk Tirto saat itu, mengecam pembubaran diskusi di Malang dan Surabaya "karena peristiwa itu termasuk melanggar hak berdiskusi, berpendapat, dan berserikat."

Setelahnya, pembubaran diskusi terjadi di Papua. Sekitar 107 peserta dan pemateri diskusi publik di asrama Mahasiswa Pegunungan Bintang, Jayapura, ditangkap paksa pada 19 November 2018. Polisi kemudian membebaskan mereka karena tak ada dugaan kuat tindakan pidana.

Sebulan berikutnya, 1 Desember, aparat keamanan Indonesia menangkap 539 mahasiswa Papua yang terbagi di Kupang, Ternate, Ambon, Manado, Makassar, dan Surabaya.
Menurut Markus Haluk dari ULMWP, dari kasus-kasus di atas, negara Indonesia "masih mempraktikkan politik rasialis bagi bangsa Papua." (dikutip dari tirto.id) 

melihat hal ini, apakah tidak ada keresahan dari kita untuk menggerakkan pemimipin agar berbuat adil! sebenarnya apasih makna adil sendiri? semuanya pasti sudah mengetahui apa itu keadilan. AdilAdalah sesuatu yang tidak bisa dikatakan sama, karena pada hakikatnya sesuatu bisa dikatakan adil  jika telah memenuhi apa yang menjadi kriteria keadilan bagi seseorang yang mengalami dan terlibat didalamnya, keadilan cenderung dikenal dengan sesuatu yang sama rata padahal porsi adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan kadar keadaan dan kebutuhan suatu hal.

Ini zaman merdeka loh! apakah kita masih ada dizaman Orde Baru di bawah
kediktaturan fasis Soeharto  dimana Rakyat Papua telah mengalami penderitaan demi melayani kepentingan imperialis, khususnya Amerika Serikat (AS), yang dirampok kekayaan alam selama puluhan tahun. Mereka dirampas tanah adat dan sumber kekayaan alamnya, diusir dari tanah leluhurnya, dibunuh, dipenjara, dan diberi stigma buruk sebagai masyarakat miskin dan terbelakang. 

Kasus yang terjadi pada mahasiswa papua ini cukup tragis, padahal bangsa kita bangsa yang merdeka. adanya sebuah undang undang mengenai kebebasan berpendapat yang dimana undang undang no 9 tahun 1998 tentang kebebasan mengemukakan pendapat dimuka umum, maka setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya sesuai dengan etika dan aturan karena telah dipayungi oleh hukum yang berlaku. lantas adakah kesalahan yang dilakukan mahasiswa papua di malang untuk menyuarakan aspirasinya. Di Malang, pada 15 Agustus, bentrok terjadi antara mahasiswa Papua dan kelompok ormas. Akibatnya, 23 mahasiswa Papua terluka. 

Mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang itu melakukan aksi politik damai. Mereka memperingati Perjanjian New Yorkpada 15 Agustus 1962 antara pemerintah Indonesia dan Belanda—tahap internasional perdana yang dianggap oleh orang Papua sebagai pintu masuk Papua bergabung Indonesia pada 1969. 

Pendeknya, kebebasan pendapat politik mahasiswa-mahasiswa Papua, yang dilakukan secara damai itu, telah diacuhkan oleh aparat kemananan Indonesia lewat tindakan-tindakan represif. (dikutip dari tirto.id) dan pada jumat, 16 Agustus, sekelompok personel TNI menggedor gerbang asrama. Alasannya, mereka melihat ada bendera Merah Putih yang dipasang pemerintah Kota Surabaya jatuh ke selokan. Secara bertahap Satpol PP dan ormas berdatangan. Mengepung asrama itu sampai selama 24 jam. Bermacam makian bernada rasisme diteriakkan sambil sesekali melempari batu ke arah asrama Papua.

Esoknya, 43 mahasiswa Papua yang ditangkap itu dibebaskan oleh polisi karena tidak memiliki bukti kuat atas kasus penghinaan terhadap lambang negara. Semoga konflik ini dapat segera terselesaikan dengan adanya komunikasi yang baik dari berbagai pihak,dan pemerintah lebih memberikan ketegasan dalam bertindak menyelesaikan serta menyikapi prihal ini. dan aparat keamanan tidak lagi bertindak resesif. agar hal hal demikian tidak terjadi lagi kedepannya. 

Kita bangsa Indonesia kedepannya agar bisa saling memahami, dan lebih tersadarkan pentingnya saling menghargai perbedaan, mampu menciptakan kehidpan yang tidak Rasis, bahkan menghina suku dan ras. Sehingga tidak terjadinya tindakan yang bisa menggangu kenyamanan sesama dalam satu bangsa agar mereka merasakan keadilan dan terpenuhi hak serta kewajiban sebagai bagian dari bangsa Indonesia sehingga tidak adanya kata perpecahan. 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.