Header Ads

KPK 2019 Bergejolak, Hingga Terjadi Pengkhianatan


Foto: mahasiswa baru tidak kondusif  pada saat materi di hari kedua KPK 2019. (dok. pribadi)



OrangeNews(16/8) – Panitia Kegiatan Pengenalan Kampus (KPK) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) seakan angkat tangan terhadap jalannya acara KPK di hari kedua(14/8). Hal ini disebabkan karena panitia KPK merasa bahwa kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya bersama pihak rektorat mengenai pembagian rundown tidak berjalan dengan semestinya. Seharusnya pada hari kedua, acara diserahkan kepada panitia KPK, namun yang terjadi dilapangan tidak sesuai dengan kesepakatan bersama karena pihak rektorat memegang keseluruhan jalannya acara.

Hal ini kemudian ditanggapi oleh Derri Dwi Geovani selaku Wakil Ketua Pelaksana KPK Untirta 2019, walaupun panitia menarik mundur barisan dengan menyerahkan keseluruhan acara kepada pihak rektorat, akan tetapi kepanitiaan tetap mengawal jalannya acara.

"Hari ini kita ngeliat juga acara masih dipegang rektorat artinya kesepakatan diawal kalo misalnya kita tidak diberikan ruang untuk hari kedua melancarkan kegiatan sepenuhnya, yasudah kita keluar dari kepanitaan. Akhirnya seperti dibebastugaskan seperti itu, tetapi kita sebagai kepanitaan tetap mengawal hanya saja tidak bertanggung jawab sepenuhnya,” tuturnya.

Terkait pembubaran panitia hingga gejolak permasalahan dari pihak internal kepanitian KPK. Mulai dari mundurnya ketua pelaksana KPK Untirta 2019 dihari pertama hingga keputusan sepihak oleh Presiden Mahasiswa (Presma).

"Belma ambil sikap mengundurkan diri dari kepanitian karena secara konsep pun, ia (Red:Presma) dengan enaknya merubah. Oke dia punya tanggung jawab tertinggi, tapi  menurut Belma itu bukan sebuah pertanggungjawaban kepada panitia. Justru apa yang udah kita bangun secara bersama sama hilang sedikit demi sedikit oleh satu orang," imbuhnya. 

Belma pun, mengungkapkan kekecewaannya karena merasa adanya pengkhianatan yang dilakukan oleh Presiden Mahasiswa, kepada panitia lain.

"Oh iyalah dia berkhianat. Di perjanjian kalau kita ga dapet kepastian sampe jam 12 berarti kita mau tarik dari kepanitiaan. Sedangkan tiba-tiba itu berubah dan posisinya itu udah lewat jam 12. Tapi tidak ada keputusan dan ternyata dia mau jadi moderator dihari itu, makanya dia gak bakal tarik barisan. Berarti secara kebutuhan, presma lebih mementingkan kebutuhan pribadinya daripada melihat situasi kondisi yg terjadi hari ini," tegasnya. 

Menanggapi tudingan tersebut, Rafli Maulana selaku Presma menjelaskan bahwa hal itu hanyalah miskomunikasi antara kedua belah pihak. 

"Nah terkait itu kita adanya kesalahan komunikasi yang kurang baik pada saat itu karena mendadak ada perubahan jadwal pemateri. Ya, itu bukan bentuk pengkhianatan sih, tapi kurang koordinasi terkait moderator untuk pemateri Menpora karena ia tidak mau dengan siapa siapa. Maunya dengan saya. Saya ya harus gimana? Gak ada perjanjian apapun saya dengan Ketuplak terkait saya menjadi moderator," jelasnya. 

Presma sendiri sudah merencanakan bahwa akan adanya penutupan kepanitiaan secara resmi dengan melakukan pertemuan kembali antar panitia. Tapi karena situasi yang memperkeruh  keadaa karena pihak rektorat  tidak terbuka dan tidak mau mengamini permintaan panitia.  

"Munculah komunikasi kurang baik, serta hal-hal lain, padahal semuanya menginginkan acara sukses, maka hal tersebut belum sempat dilakukan," ungkap Rafli. 

Pada akhirnya mereka memiliki harapan yang sama mengenai kesuksesan KPK 2019. Dan berharap permasalahan ini menjadi bahan evaluasi untuk KPK selanjutnya agar lebih terjalin komunikasi dan koordinasi yang baik dari berbagai pihak, baik itu mahasiswa maupun pihak rektorat sehingga bisa saling terbuka satu sama lain. 


Reporter: Aulia/Liya/Tasya

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.