Header Ads

Ada Apa Dibalik Petisi Perpeloncoan KPK

Foto: Tampilan petisi perploncoan kpk 2019, dan jumlah partisipan yang menandatangani petisi.



OrangeNews(16/8) - Diduga mahasiswa baru membuat serta mengajak  untuk menandatangi petisi, terkait adanya perpeloncoan pada technical meeting 2 (29/7) Kegiatan Pengenalan Kampus (KPK) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).  Petisi ini bermula setelah pembacaan regulasi Gerakan Disiplin Kampus (GDK)  yakni: GDK tidak pernah salah, bila GDK salah kembali pada poin sebelumnya.

Tak hanya itu terdapat beberapa faktor pendukung lain sehingga munculnya petisi tersebut. Seperti  adanya laporan bahwa telah terjadi  kekerasan  verbal dan non verbal  yang dialami mahasiswa baru.

Melihat adanya petisi tersebut, Belma Dwi Anggini, selaku ketua pelaksana KPK mengatakan  belum mengetahui siapa pelakunya. Namun ia sudah membaca dan menganggap wajar hal tersebut, sehingga belum melakukan tindakan apapun.

“Sebenarnya, wajar ya Belma ngadepin hal-hal kaya gitu. ya wajarlah setiap orang berhak berkomentar karena pikiran kita belum tentu sama dengan pikiran orang lain. Kalo mereka buat hal kaya petisi gitu dimaklumi, kan boleh-boleh aja. silahkan kalo mereka menganggap hal ini ga sesuai. tapi kan kita ada yang namanya SOP, kalo memang panitianya melanggar SOP. ya, kita keluarkan dari kepanitiaan,” ungkapnya.

Isu yang beredar bisa dikatakan menjadi faktor pendukung lain dalam pembuatan petisi adalah aturan pencukuran rambut 321 yang sudah ditetapkan, namun masih ada beberapa yang tidak mematuhi dan menjadi masalah yang berkepanjangan dikalangan panitia dan senior, yang membutuhkan kejelasan lebih lanjut. Salah satunya masalah terkait pemangkasan rambut yang dilakukan kepada mahasiswa baru teknik, sehingga menyulut rasa tidak tidak terima dikalangan senior teknik.

Mendengar isu tersebut Bayhaki selalu SC BEM KBM Untirta menanggapi hal ini, bahwa ia rasa tidak ada kaitannya petisi dengan pemangkasan rambut karena menurutnya masalah tersebut sudah beres.

"Jelas ya Karna hari ini acara yang besar atau pun kaderasisasi yang sangat besar ketika di Universitas, saya pikir ini sebuah isu yang hangat juga bagaimana diinformasikan. Terkait bagaimana ada kejadian perpeloncoan segala macem, itu adalah kesalahan teknis ataupun ada salah satu Maba tidak mengikuti peraturan yang telah dibuat oleh GDK, terkait bagaimana ketentuan rambut, ada dari pihak GDK untuk menegur dan menyikapi hal tersebut serta permasalahan itu sudah clear dari si maba, pun sudah dikomunikasikan dari pihak yang bersangkutan, dari GDK pun sudah minta maaf. Memang ketika itu ada reactioner dari GDK saya jamin, untuk kedepannya tidak ada lagi kejadian yg memang lebih kekerasannya tidak ada saya yakin kedepannya tidak ada kekerasan fisik dan sebagainya," jelasnya.

Ketika sudah dikatakan clear, namun masih terdapat beberapa mahasiswa teknik yang mendatangi Presma dan ketua pelaksana untuk meminta penyelesaian kembali. Sempat ditemui salah satu mahasiswa teknik untuk dimintai penjelasan,  ia memungkiri pernyataan dari wakil ketua presiden mahasiswa, bahwa sudah clear nya masalah tersebut.

"Belum ada kejelasannya dari semua pihak. Dari pihak kpk, dari pihak bem, pelaku, korban dari pihak kita. Pokoknya gaada yg jelas," ungkap Cokor, mahasiswa teknik mesin 2017.

Ternyata tidak hanya bermasalah dengan pihak mahasiswa teknik saja, ada laporan juga terkait pemangkasan rambut 321 bahwa ada salah satu mahasiswa FISIP yang melaporkan kepada mentor fakultasnya. Ia juga merasakan pemangkasan rambut pada saat UKM festival karena ia dirasa belum memenuhi standar aturan rambut 321 yang ditetapkan GDK, padahal Anton, mahasiswa baru FISIP tersebut merasa sudah mencukur rambutnya hanya saja kurang tipis.
Hingga akhirnya diberikan tawaran untuk memotong rambutnya sendiri atau oleh pihak GDK.

"Terus kata dia (red:GDK) 'ini mau di coak sendiri apa diluar?' Anton sempet mau coak di luar biar rapih tapi  'udahlah Kak sendiri aja'.  Terus dianya ngomong 'kok ini masih agak panjang? Sini saya coakin', terus dipotong sama dia, dianya motong dikit doang sih," Anton, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2019.

Beberapa faktor diatas terlihat bahwa petisi dibuat oleh mahasiswa baru, namun ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah buatan para senior saja yang ingin mengompori mahasiswa baru agar tidak mengikuti kegiatan pengenalan kampus.

"Saya pikir terkait bagaimana petisi ini jelas pasti karena ada kaitan ataupun isu yang berkaitan dengan salah satu fakultas di Untirta dan sah- sah saja bagi mereka yang memang tidak menerimanya. Kita sendiri selaku panitia KPK mengucapkan terimakasih kepada pihak berkaitan terkait banyaknya petisi, namun tadi ketika memang ada Kompor-komporan ataupun provokasi dari pihak lain," tambah Bayhaki.

Wakil ketua Presma dan ketua pelaksana KPK pun mengatakan akan melakukan tindakan  dalam menanggapi terkait petisi ini, yaitu dengan adanya evaluasi seluruh panitia agar tidak terjadi lagi dalam acara selanjutnya.


Reporter: Liya/Tasya/Aulia.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.