Header Ads

[ OSAMI EDISI 15]




Pemilu atau Perang?

Pada tahun 2019 nanti, masyarakat Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi terbesar 5 tahunan, yaitu Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif yang rencananya akan dilakukan secara serentak. Pemilu mendatang pun akan menjadi pemilu terpanas menurutku, dengan drama dan dinamika yang kita tonton selama ini di media massa. Kita ketahui bahwa selama 2,5 tahun ini iklim perpolitakan di Indonesia sedang panas-panasnya. Bahkan sejak 2014 yang lalu, saat Jokowi terpilih menjadi Presiden RI ke-7, oposisi sudah menunjukkan taringnya dengan menguasai parlemen, walau akhirnya oposisi di parlemen pecah dengan masuknya Golkar yang saat itu menjadi salah satu partai kuat di DPR bergabung dengan koalisi pemerintah.

Dinamika yang ada saat ini merupakan proses politik yang sangat rumit, mengapa demikian? Masyarakat Indonesia cenderung mudah untuk di pengaruhi dengan tindakan – tindakan populis dan provokatif.
Aksi 212 di tahun 2016 menjadi sebuah aksi terbesar di Era Reformasi, sekitar 1 juta umat islam turun kejalan menuntut Ahok diadili karena dianggap telah melakukan penistaan agama. Di komandoi oleh imam besar FPI, yaitu Habib Riziq, massa aksi sukses mempengaruhi hampir seluruh ummat islam. Apa pengaruhnya? Pengaruhnya politik islam masuk kedalam sistem politik Indonesia yang menyatukan agama dan politik, terbukti saat pilkada DKI Jakarta alumni 212 menggiring opini untuk memilih pemimpin Islam.

Berkaca pada aksi 212 itulah, politik identitas menjadi senjata untuk mempengaruhi masa untuk menggaet suara nanti. Hal ini dibuktikan pada bulan Agustus lalu, saat pengumuman Capres dan Cawapres, Jokowi memilih Ma’aruf Amin sebagai wakilnya karena keterwakilan ulama menurutnya bisa menjadi sebuah senjata melanggengkan kekuasaannya. Begitupula di kubu oposisi dengan penokohan Habib Riziq menjadi sebuah alat melawan Ma’aruf amin. Target mereka sama, yaitu umat islam.

Tak hanya itu milenial menjadi target utama kedua kubu, alasan Prabowo menggandeng Sandiaga Uno, tak lain adalah target mereka merupakan kaum muda walaupun diterpa isu mahar politik. Kubu sebelah juga tidak tinggal diam, menggandeng Erick Thohir sebagai Ketua Tim Sukses adalah cara mengunci suara kaum muda karena kita ketahui Erick Thohir sangat dekat dengan para milenial.
Perang di media sosial pun cukup rumit, dimotori Mardani Ali Sera, oposisi menggalang aksi #2019GANTIPRESIDEN. Sebuah aksi yang dinilai bisa mempengaruhi netizen, karena berkaca pada pemilu Amerika, dimana Trump dengan slogan MAKE AMERICA GREAT AGAIN bisa mempengaruhi rakyat amerika saat itu. Pihak pendukung Jokowi pun punya gerakan tersendiri sendiri, yaitu #JOKOWI2PERIODE sebagai anti tesis dari tagar besutan oposisi.

Saling serang dua kubu politik ini memang sangat rumit, lebih seperti sebuah perang saudara dengan berbagai macam strategi. Tak heran memang, di tahun 2019 yang akan datang nanti pemilihan presiden lebih seperti peperangan antar sesama saudara. Di mana yang satu ingin terus melanggangekan kenyamanannya, tetapi yang satu lagi ingin merebut kenyamanan itu.
Kita tunggu saja nanti 2019, apakah pilpres akan berjalan sesuai keinginan KPU atau di luar keinginan KPU.

Oleh: Mas Moch. Fathahillah

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.