Header Ads

Menjemput Keadilan Buruh PT. Freeport Melalui Forum Diskusi Program Lesehan Pint


Foto : Suasana saat berjalannya forum diskusi Proletar Jilid 3

Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (Hima IP) mengadakan Program Lesehan Pintar (Proletar) Jilid 3 yang bertemakan Hak Asasi Manusia Terhadap Buruh Freeport di Papua. Diskusi tersebut berlangsung pada Rabu (25/9) di Auditorium Gedung B, Kampus A Untirta Pakupatan. Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin bulanan Hima IP yang bertujuan untuk membuka pemikiran dan wawasan mahasiswa bahwasanya banyak sekali kerugian, penyimpangan, dan kesenjangan baik yang dialami oleh rakyat Papua sendiri, maupun bagi Indonesia dari adanya Freeport di tanah Papua.

Terdapat 2 pemantik diskusi pada kegiatan Proletar kali ini, yaitu : Haris Azhar, sebagai Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, dan Raden Elang Yayan Mulyana, sebagai Direktur LBH Rakyat Banten. Serta didatangkan pula 4 orang rakyat Papua, mantan pekerja Freeport sebagai pembicara yang menyampaikan terkait banyak hal, yang mereka alami. Selain itu, agenda tersebut dihadiri dengan peserta sebanyak 150 orang.

"Tema Proletar Jilid 3 ini diangkat karena dibalik kesibukan orang-orang yang membahas dan menghangati dunia perpolitikan tentang Capres dan Cawapres saat ini, ada pula isu lainnya yang sebetulnya bisa dikatakan darurat bagi Indonesia dan membutuhkan solusi yang terbaik dalam penyelesaiannya yang tak kunjung menemukan titik tengah atau jalan keluar. Yaitu mengenai ketidakseimbanganannya antara kewajiban atau kinerja dengan hak yang didapatkan oleh para buruh atau pekerja lokal Papua di PT Freeport. Sehingga menimbulkan permasalahan-permasalahan yang merugikan rakyat atau buruh," jelas Indah Alda Meliya, selaku ketua pelaksana.

Kegiatan tersebut diawali oleh Haris Azhar yang membahas terkait beberapa fakta penyimpangan yang ada. Pertama, pekerja lokal Papua di PT Freeport pada kenyataannya sangatlah kecil. Sekalipun sedikit besar, namun dalam hierarki nya mereka berada di paling bawah, bukan sebagai pengambilan kebijakan atau atasan. Kemudian banyak pula pekerja lokal Papua yang di PHK sepihak salah satunya akibat aksi mogok kerja pada mei 2017. Selanjutnya ada masalah ketenagakerjaan dan juga pelayanan atau asuransi kesehatan (BPJS) yang ditutup sepihak oleh PT Freeport. Kemudian problematika terkait tata kelola perusahaan PT Freeport ini yang sangat dikeluhkan pekerja, yaitu diambilnya keputusan secara sepihak tanpa mengikutsertakan pekerja.

Berbeda dengan pemantik diskusi yang kedua, yaitu Raden Elang Yayan Mulyana,  beliau lebih menekankan dari segi penegakan hukumnya. Bahwasanya hukum tidak boleh digunakan secara diskriminatif. Karna jika hukum tidak ditegakkan, maka Undang-undang hanya sebatas bungkus kacang belaka karena tidak di implementasikan secara benar. Jangan sampai keadilan di Papua itu hanya sebatas fatamorgana saja.

Selanjutnya ada beberapa pernyataan yang disampaikan oleh 4 orang Papua yang hadir, diantaranya adalah bahwasanya kawan-kawan Papua yang hadir itu bukan untuk meminta dikasihani, tapi meminta untuk didukung. Jangan sampai negara Indonesia diikut campuri lagi oleh negara asing. Banyak sekali orang papua yang mulai dimunculkan di media seperti Televisi itu hanya untuk menyenangkan hati masyarakat Papua belaka agar bisa dikeruk harta atau kekayaan Papua nantinya.

Pada realitanya saat ini, Papua belum seperti apa yang digadang-gadangkan oleh pemerintah terkait infrastruktur atau pembangunan yang ada. Tidak ada jalan tol di Papua, pembangunan pun tidak ada. Pemerintah bagaikan tuli dan buta, aspirasi rakyat hanya ditampung agar tidak berontak, tapi tidak ada solusi atau jalan keluar yang terealisasikan. Yang ada di Papua hanyalah banyaknya permainan saham, tarik menarik kepentingan. Demokrasi di sana tidak berjalan dengan baik, karna apa yang rakyat tuntut demi kesejahteraan hanyalah tragedi yang berujung kenaasan. Karena kenyataan nya berkata bahwa keadilan saat ini sedang disepelekan dan keadilan rela diinjak hanya demi mengkomersialisasikan kekayaan.

“Kalau dibilang merebut pun tidak, karena Freeport sendiri kontraknya habis tahun 2021 dan kalaupun merebut itupun bukan merebut tetapi itu adalah hak kita. Jika sampai tahun 2021 kontrak karyanya habis otomatis Freeport akan menjadi milik kita. Kalau sampai kalimat merebut bukan tetapi itu adalah hak kita sebagai bangsa indonesia. Kalau untuk agraria sendiri sih dampak yang sebenarnya sih dari pengelolaan tanah, air, dan sebagai macam sumber daya lainnya khususnya freeport memang ia menyalahgunakan aturan republik ini bahkan diperjual belikan," papar Obet, yang merupakan satu dari keempat orang Papua yang diundang dalam kegiatan Proletar.

Selain itu, Obet juga menjelaskan bahwa, kesenjangan yang terjadi pun merata, dengan 51 tahun Freeport berada di papua dampaknya itu tidak ada sama sekali. Masalah pembangunan daerah, pembangunan SDM orang papua, itu tidak terakomodir oleh Freeport. Hanya segelintir orang saja yang dapat menikmati, pun itu bukan orang Papua tapi orang pendatang yang sudah lama tinggal di Papua. Obet dan teman-temannya berharap agar dapat menyuarakan hak-hak mereka yang sudah dirampas, karena banyak anak-anak mereka yang putus sekolah akibat tidak difasilitasi, dan menurutnya hal tersebut menjadi kerugian moral.

Kegiatan Proletar tersebut mendapat respon yang cukup baik dari para peserta yang hadir. Terbukti dari cukup aktifnya peserta dalam mengkuti jalannya diskusi dari awal sampai akhir. Termasuk halnya dengan salah satu peserta yang sudah hadir dari Proletar Jilid 1 sampai 3, yaitu Karin, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan semester 3. Ia menuturkan bahwa Proletar Jilid 3 ini memiliki daya tarik tersendiri dengan mengangkat isu utama tentang hak asasi buruh Freeport di Papua.

“Kesannya untuk Proletar Jilid 3 ini seru banget sih, dari bahasan materinya bener-bener beda banget dari proletar-proletar sebelumnya. Dan pemateri yang kita datangkan pun pemateri yang cukup terkenal di bidangnya dan beberapa kali tampil di Indonesia Lawyer Club juga. Jadi, bener-bener berkesan banget proletar yang ini, dan nyampe gitu,” tutup 

(Reporter: Mayang/Niken/Artha/Fatih/Devi)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.