Header Ads

[ OSAMI EDISI 14 ]

Sumber foto : 


Pergerakan mahasiswa era Milenial

Perkembangan yang terjadi dalam dunia mahasiswa berbeda setiap zaman, pergerakan mahasiswa dilihat dari kesadaran individu akan melihat kondisi objektive yang terjadi saat ini dan siapa orang yg mempimpin apakah baik-baik saja atau sebaliknya? Harapan terbesar dari perjalanan sebuah peradaban Bangsa ini adalah mahasiswa yang berjalan dalam kesadarnya yang utuh. 

Banyak oknum yang mengotori segala bentuk implementasi pergerakan mahasiswa dalam masyarakat yang terlalu politisi, terlepas dari kepentingan yang terlalu politis. Mahasiswa menjadi garda terdepan untuk menyampaikan aspirasi dalam memberikan modal semangat kepada seluruh rakyat Indonesia. Dalam posisi tersebut, skema kebijakan Negara ini yang diciptakan oleh beberapa elit-elit pemerintahan menjadi permasalah yang semestinya dipecahkan oleh segenap mahasiswa yang mengemban amanah intelektualitas yang lahir dari sudut-sudut laboratorium ilmiah yang disebut sebagai kampus.

Sejarah pergerakan mahasiswa yang konkrit untuk perubahan pola kehidupan masyarakat dalam hal layak positif dari mahasiswa yang sadar akan eksistensinya sebagai mahkluk sosial yang intelektual dan kristis, maka timbul sejarah pergerakan mahasiswa yang berlandaskan pemikiran yang kritis. Sehingga gejolak pemikiran kritis yang begitu variatif mengantarkan masyarakat kepada KEMENANGAN akan kepentingan masyarakat yang termarjinalkan. 

Jika sejarah dalam pergerakan mahasiswa untuk melawan segala kebijakan atau sistem yang tidak memanusiakan manusia ialah dengan aksi demonstrasi, maka apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa era milenial? Banyak cara untuk melawan salah satunya ialah Dengan menyikapi arus globalisasi dalam era milenial ini, maka cara yang dapat dilakukan mahasiswa milenial dengan menuangkan segala ide dalam bentuk tulisan yang sering disebut dengan SOCIAL MEDIA MOVEMENT. Realitanya membuktikan bahwa mahasiswa di era milenial ini telah terhegemoni ke dalam dimensi keterpurukan akan sistem yang mengharuskan tanggungjawab itu meleleh menjadi sebuah ketakutan-ketakutan untuk melawan segala bentuk penindasan pemerintah saat ini dengan sistem-sistem yang dilontarkan kepada masyarakat. Tentunya sistem tersebut tidak terlepas dari pola pemikiran akan kondisi kampus yang makin memperihatinkan.

Mahasiswa di era ini memang buta akan sejarah, tanggungjawab dan substansinya sebagai sosok yang terpenting dalam struktur sosialnya, karena dirinya sibuk beronani di dalam kehidupan materialistik dan instan. Keterjangkitan oleh virus hedonisme dan pola pikir praktis adalah ciri-ciri mahasiswa hari ini. Pilihan mereka hanya satu yaitu kesenangan, sehingga mereka sangat muda untuk dibodohi melalui sistem tersebut dan tentu kebodohan tersebut merembes kepada tulang rusuk mereka. 

Kampus adalah benteng terakhir mahasiswa hari ini. Kegelapan tentu menjadi wajah mahasiswa yang tak disinari oleh cahaya pengetahuan dan tentu gerakan akan mati serta pemerintah akan semakin merajalela dalam melakukan penghisapan dan penindasan secara berlebihan.

Bagaimana dengan luluhur dan orang tua, mereka akan mengalami penyesalan di kemudian hari. Lalu apa kabar dengan mereka? yang bekerja keras demi mencari sesuap makan, ORANG YANG TERSADARKAN KARNA HATI SUDAH GERAM DENGAN KEADAAN. bahkan petani, buruh dan masyarakat miskin kota akan semakin sengsara, jika kita terus terjangkit dengan virus hedonisme dan pola pikir praktis. Maka timbulkan pertanyaan untuk mahasiwa saat ini ialah, Mampukan kita mengubah kondisi itu?

Oleh: Daniel Sirait, Fakultas Hukum

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.