Header Ads

[ OSAMI EDISI 15 ]


Ketika Keadilan Diperdagangkan

Coba jelaskan dimana letak keadilan?

Ketika teriakan-teriakan “berantas korupsi” terus menggema, namun hukum tetap tidak sepadan. Uang nampaknya masih menjadi yang terdepan, menjadi tuan di dalam. Begitu mudahnya “membeli” keadilan.

Keadilan seperti sebuah lelucon. Ironi. Lagi dan lagi rakyat dibuat geleng-geleng kepala, bagaimana mungkin kemewahan diberikan kepada mereka yang disebut sebagai “pencuri hak rakyat”. Indonesia penuh dengan kekonyolan, ketika mereka para pencuri hak rakyat hidup dengan penuh kemewahan dan berbanding terbalik dengan mereka yang haknya dicuri. Lucunya Negeri ini. Hak-hak rakyat diinjak demi mengedepankan hak-hak koruptor. Bagaimana bisa seorang pencuri hak rakyat hidup ditempat dengan fasilitas mewah yang meraka sebut itu sebagai “penjara”. Dan bagaimana bisa mereka yang haknya dicuri hidup hanya dengan beralaskan Koran?

Terlihat dengan jelas bagaimana uang dan kekuasaan memainkan peranya. Bukankah sila terkahir pancasila ialah “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” ?

Lantas keadilan seperti apa yang sesuai dengan pancasila? Keadilan apa yang ditawarkan pemerintah pada rakyat?

Jual-beli keadilan menjadi hal yang lumrah di Indonesia. Lagi, uang memainkan peranya dengan amat baik.

Jadi teruslah rapatkan barisan dan berlawan. Carilah keadilan hingga titik darah penghabisan.
Dalam catatanya di 10 Desember 1959, Soe Hok Gie pernah menulis “kita, generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua, seperti ….. kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan indonesia”.

(Oleh : Nida Urrohmah - Ilmu Pemerintahan 2017, Untirta)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.