Langsung ke konten utama

[ OPINI ] TERKIKISNYA KEARIFAN LOKAL DI ERA GLOBALISASI


(sumber foto: google)

      Di era sekarang perubahan jaman yang semakin cepat baik dari teknologi dan ilmu pengetahuan sangat mempengaruhi lingkungan sosialnya dan juga pada pola bermain anak-anak. Anak-anak di Era sekarang sudah jarang sekali mengenal Permainan Tradisional dan bahkan anak-anak di Era sekarang ini jarang sekali bermain diluar rumah. Di Era modern ini menjadi sebuah tantangan bagi generasi-generasi muda untuk mempertahankan Permainan Tradisonal sebagai salah satu bentuk kearifan lokal. Tidak hanya itu saja dengan hadirnya sebuah permainan modern yang berbasis teknologi ini membuat posisi Permainan Tradisional sudah mulai hilang dan ditinggalkan. Anak-anak jaman sekarang sudah jarang sekali bermain di lapangan dan cenderung menghabiskan waktu dengan bermain gadget didalam rumah, game online, game yang bersifat kekerasan, playstation dan video game, dan cenderung membuat anak menjadi karakter yang individualistis, tidak ada aktivitas di luar rumah, bahkan menjadi tidak sehat dan bahkan terisolir dengan lingkungan sosialnya. Kemudian dari beberapa yang saya amati, dengan hadirnya Permainan Modern yang berbasis teknologi anak-anak lebih memilih Permainan Tersebut di bandingkan Permainan Tradisional. Memang jika kita lihat sekarang Permainan Modern tidak selalu memberikan dampak positif akan tetapi malah memberikan dampak negatif apalagi sudah menjadi kecanduan bagi anak-anak dan tentunya sangat mempengaruhi prestasi belajar si anak.

        Permainan tradisional ini sudah ada sejak zaman dahulu, dan berkembang dilingkungan masyarakat. Secara umum permainan tradisional ini memiliki ciri khas nama tersendiri di setiap daerahnya masing-masing dan sesuai dengan kebudayaan dan tradisi ditempatnya. Permainan tradisional ini sangat sederhana untuk di mainkan anak-anak. Jenis-jenis permainan tradisional yang ada diSerang Banten yaitu Bentengan, Rokrokan, Gobak, Gatrix, Dampu, Engrang, Dagongan, lompat tali, Engkle, dan Congklak. Permainan tradisional ini bukan hanya sekedar permainan saja. Didalam permainan tradisional ini memiliki unsur-unsur nilai-nilai sejarah, filosofis, jasmani dan budaya yang terkandung didalamnya serta dapat menambah perkembangan anak, salah satunya hompimpa alaium gambreng, ternyata didalam kata hompimpa alaium gambreng ini mempunyai arti yaitu Dari Tuhan kembali ke tuhan, mari kita bermain. Hompimpapun memilki arti tersendiri selain sebagai penentu pemenang game, Hompimpa dapat memiliki arti sebagai simbol dari permulaan dari segalanya, mencerminkan sikap demokrasi dan bermusyawarah yang tinggi. Permainan tradisional yang dimainkan anak-anak jaman dulu bisa dilakukan dengan cara berkelompok.

Solusi dan Tantangan Ke Depan

       Bagaimana Solusi dan tantangan kedepannya mengenai hilangnya eksistensi permainan tradisional yang ada diSerang Banten? Pertama-pertama perlu adanya generasi muda yang bisa meng-Eksistensikannya lagi permainan tradisional tersebut khususnya dikalangan Mahasiswa-mahasiwa. Seperti yang kita tahu bahwa mahasiswa adalah sebuah Agen Of Change dari situlah seorang mahasiswa bisa meng-Ekisitensikanya lagi Permainan Tradisional tersebut. sebagaimana yang kita tahu bahwa Permainan Tradisional adalah hasil penggalian sebuah produk kebudayaan, tentunya Permainan Tradisional ini sangat penting sekali karna Di dalam Permainan Tradisional ini bisa menjadi sebuah Media Pembelajaran. Selain itu Permainan Tradisional bisa menjadi sebuah strategi bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya agar si anak bisa belajar mengenal lingkungan disekitarnya. Kedua seperti yang kita tahu ada baiknya Permainan Tradisonal ini Di kembangkan lagi oleh Kementrian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan agar Permainan Tradisional ini bisa terus Eksis di era Digital ini. Ketiga perlu adanya sebuah komunitas Permainan Tradisional di Kota Serang Banten ini agar anak-anak jaman sekarang dapat mengenal Permainan Tradisional dan Mensosialisaikan Permainan Tradisonal kepada anak-anak. Seperti Komunitas-Komunitas yang ada di berbagai daerah ada Komunitas Hompimpa Di kota Tangerang, Ada juga Komunitas Hong di kota Bandung. Dengan di bentuknya komunitas ini sangat penting sekali selain mensosialisasikan Permainan Tradisional, juga bisa Melestarikan Permainan Tradisional dan Mengembangkan Permainan Tradisional sebagai salah satu bentuk hasil dari penggalian kebudayaan. Ke-empat Permainan Tradisional juga sangat bermanfaat untuk mendidik sekaligus membentuk kepribadian karakter anak terutama khususnya Pendidik Orang Tua, Guru, Sekolah dalam membentuk Karakter anak tidak harus melalui cara yang formal tetapi, bisa melalui cara-cara yang menyenangkan salah satunya dengan Permainan Tradisional. Kelima Terutama Peran Guru sebagai pendidik harus bisa menggunakan Media Pembelajaran seperti yang kita tahu Permainan Tradisional juga bisa digunakan untuk media pembelajaran contohnya Permainan Bola Bowling. Lalu dikaitkan dengan Mata Pelajaran Sosiologi Bowling. Adapun contoh lain misalanya Permainan Kelereng bisa meningkatkan anak untuk belajar menghitung.

Bagaimana  Cara meng-Eksistensikan kembali Permainan Tradisional diKota Serang Banten?

       Menurut pandangan saya dengan cara di bentuknya sebuah Komunitas Permainan Tradisonal Di Kota Serang Banten. Agar Komunitas ini dapat mensosialisasikan Permainan Tradisional kepada anak-anak disekitar kota serang selain mensosialisasikan fungsi komunitas ini juga menjaga dan melestarikan permainan tradisional agar tidak tergerus oleh perkembangan jaman yang semakin pesat dan mengajak anak-anak untuk bermain Permainan Tradisional. Dan perlunya kesadaran bagi pemuda seperti Mahasiswa dan lain sebagainya untuk memperkenalkan, menjaga dan melestarikan Permainan Tradisional sebagai bentuk hasil dari kebudayaan. Peran Orang tua dalam Keluarga sangatlah penting untuk mensosialisasikan Permainan Tradisional agar orang tua dapat mengontrol perkembangan anak secara fisik dan pikiran. Kemudian disekolah peran guru terhadap siswa sangatlah penting untuk memperkenalkan atau mensosialisasikan Permainan Tradisional sebagai sebuah hasil penggalian kebudayaan. Selain itu ada perlunya Peran Permainan Tradisional di Eksistensikan melalui acara-acara perayaan hari Kemerdekaan Indonesia.

(Penulis adalah Dema Eko Prabowo. Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtyasa, Jurusan Pendidikan Sosiologi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penantian Kampus Baru Untirta

Tembok simbol Untirta yang berada di Kampus A Untirta, Pakupatan, Serang
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) terus melakukan pembenahan untuk fasilitas proses pembelajaran. Salah satunya adalah pembangunan kampus baru Untirta yang diberdirikan di Sindangsari, kecamatan Pabuaran, kabupaten Serang. Pembangunan ini akan direncanakan rampung pada tahun 2020.
Pembangunan kampus baru Untirta Sindangsari, dilakukan mengingat kapasitas mahasiswa kian padat dan meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Hal ini membuat pihak Untirta berinisiatif membangun kampus baru, dengan jumlah dan kapasitas yang cukup menampung mahasiswa Untirta di kemudian hari.
Pasalnya kampus baru ini akan dibangun 11 gedung perkuliahan dan 4 gedung Fakultas seperti Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Pertanian (Faperta) dan Fakultas Ekonomi (FE). Ke empat Fakultas ini akan menempati kampus baru Sindangsari nanti, sedangkan kampus Untirta di Pakupatan akan digunakan untuk Di…

Jurusan Pindah, Kelas Begah

Kenalkan Teknologi Pangan di acara Open House Faperta 2018

Foto: Suasana acara Open House Faperta 2018
OrangeNews (10/4) - Open House Fakultas Pertanian (FAPERTA) merupakan salah satu kegiatan rutin tahunan yang diadakan di lingkungan mahasiswa Faperta Untirta. Open house tahun ini di inisiasi oleh BEM Faperta serta KBM Faperta yang diselenggarakan di Auditorium Gedung B Untirta. Dalam acara tersebut terdapat diskusi interaktif seputar informasi terbaru Faperta, pengenalan jurusan baru serta pengukuhan ormawa di lingkungan Faperta.
Dengan mengusung tema "Sambut Keluarga Baru, Pererat Silaturahmi menuju Faperta yang Harmoni" Open House kali ini menjadi ajang silaturahmi bagi keluarga besar fakultas pertanian agar terjalinnya keeratan diantara mahasiswa Faperta. 
"Open House tahun ini sebenarnya lebih ke mengenalkan keluarga baru jurusan di Fakultas Pertanian, yakni Teknologi Pangan yang ke seluruh Mahasiswa Faperta baik yang berorganisasi maupun tidak berorganisasi" ujar Dita selaku Ketua pelaksana kegiatan Open House Faperta …