Header Ads

Kinerja Wartawan Masa Kini



SERANG (6/5) - Wartawan atau jurnalis adalah seseorang yang melakukan kegiatan jurnalistik atau orang yang secara teratur menuliskan berita berupa laporan dan tulisannya dikirimkan atau dimuat di media massa secara teratur. Media massanya berupa koran, televisi, radio, majalah, dan internet.

            Profesi ini sudah ada sejak zaman perjuangan. Dari waktu ke waktu dunia mengalami perubahan kemajuan dalam segala bidang, dan tentu saja profesi ini juga mengalami siklus perubahan. Yuk ketahui apa saja perubahannya.

            Menurut Nana Sutisna Amdan Gendral Manager dari Jawapostv yang sudah bekerja menjadi wartawan dari tahun 1995, terdapat dua fase perubahan yang dirasakan yaitu ketika zaman orde baru orang yang memiliki kesalahan akan takut untuk diberitakan tetapi tidak sekarang, contohnya pejabat yang terkena kasus korupsi malah senyum-senyum saja tanpa rasa malu.

            “Ketika zaman orde baru orang itu, pejabat atau orang yang punya salah akan takut untuk diberitakan karena pemberitaan yang berkaitan denganimage yang buruk itu malu, sehingga wartawan itu menjadi momok yang sangat besar para pejabat yang nakal. Sekarang itu, koruptor atau apa kalo diberitain di tv atau dimana dinyatakan tersangka atau terdakwa dia senyum-senyum aja, dengan riangnya dia menyapa” Ujarnya.

            Lalu, dulu era sampai tahun 2010 kekerasan terhadap pers masih sangat tinggi. Pengalaman ini terjadi pada Nana Sutisna, dimana beliau ditodong pistol, dikeroyok, hingga didemo karena berita yang dibuat. Tapi sekarang beda, enaknya adalah apabila masyarakat tidak merasa puas jalurnya bisa lewat hukum.

            Kemudian perubahan dilihat dari sisi teknologi sekarang yaitu handphone,dulu sebelum era tahun 2000-an khususnya di Banten koneksi internet susah dan wartawan ingin membuat berita yang benar dan sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) harus memegang buku KBBI, tapi sekarang apabila ragu bisa melihat online.

            Selanjutnya, kecepatan informasi dulu lewat faksimile harus bikin berita terlebih dahulu kemudian dicetak dikirim kemudian diketik ulang diredaksi dan apabila terdapat gambar harus diantar, tapi kalau sekarang dengan bermodalhandphone wartawan bisa mengetik dimana saja dan kapan saja dan bisa dikirim kapan saja.

            Selebihnya untuk sumber informasi, wartawan sekarang bisa mengakses segalanya dari internet seperti dasar hukum atau undang-undang tetapi dulu wartawan harus kerja keras untuk mencari semua itu dengan membaca buku undang-undang dan lain-lain.

            Perbedaan dirasakan juga oleh Novi Hermawati, salah satu mahasiswa aktif yang tergabung dalam UKM Pers Bidikutama di Untirta. Perbedaan yang dirasakan adalah dari segi wawancara, sekarang wawancara bisa dilakukan melalui e-mail atau pesan singkat dan telepon tetapi dulu harus bertemu langsung atau tatap muka.

            Meskipun mengalami beberapa perubahan, ada satu hal yang dari dulu belum berubah dari  pemikiran masyarakat disetiap daerah dan ini menjadi tantangan besar bagi wartawan yaitu menilai wartawan adalah orang yang tahu segala hal.

(DO/JPL/NEWSROOM)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.