Langsung ke konten utama

Sate Bandeng, Kuliner Khas Tanah Jawara

Proses Pembakaran Sate Bandeng yang Dilakukan Secara Manual Oleh Pegawai Toko Sate Bandeng

Jika berkunjung ke Banten tak lengkap rasanya bila tak membawa buah tangan untuk diberikan ke sanak saudara ataupun kawan sejawat. Provinsi yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat ini memiliki kuliner yang khas untuk dijadikan oleh-oleh yaitu Sate Bandeng. Namun, sate bandeng ini berbeda dari sate-sate pada umumnya, jika sate pada umumnya menggunakan daging ayam atau kambing, lain halnya dengan sate bandeng. Sesuai dengan namanya, sate bandeng ini menggunakan ikan bandeng sebagai bahan dasarnya. Dalam penyajiannya pun berbeda, sate bandeng tidak menusukkan daging ikan satu persatu ke dalam sebilah bambu, tapi menyajikannya secara utuh dalam bentuk satu ekor ikan bandeng, dijepit dua batang kamitan bambu lengkap dengan kulit, daging dan sirip, namun tanpa duri.
Dilansir dari Arsip provinsi Banten, kehadiran sate bandeng sebagai makanan khas di daerah pesisir sebenarnya cukup unik karena agak bertentangan dengan dinamisasi masyarakat pantai yang serba cepat. Menurut Antropolog dan Ahli Banten, Drs. Halwany Microb (Alm.), sate bandeng yang disiapkan dengan waktu cukup lama, hal tersebut bertentangan dengan karakter nelayan yang ingin serba cepat.
Dirunut dari sejarahnya, makanan yang biasa disantap masyarakat Banten berasal dari dua kelompok besar masyarakat. Pertama adalah masyarakat Coastland yang tinggal di pesisir dan kedua adalah masyarakat Hinterland yang tinggal di pegunungan. Contoh makanan masyarakat pantai adalah nasi liwet yang dihidangkan jauh lebih cepat daripada nasi karon yang biasa dimakan masyarakat pegunungan. Dari segi geografi wilayah, kehadiran sate bandeng tak lepas dari pengaruh munculnya tanah-tanah sedimen di sekitar Pantai Utara Banten yang landai. Tanah-tanah sedimen yang gembur cocok untuk pengembangbiakan ikan bandeng. "Oleh sebab itu di Banten Selatan yang berpantai karang dan agak terjal serta banyak mengalami abrasi, sate bandeng tidak dikenal," ujar Halwany dalam bukunya yang berjudul "Banten dari Masa ke Masa".
Dalam kajian antropologis yang bisa dicatat, kehadiran sate bandeng berawal sejak abad ke-18 pada masa Islam, sekitar tahun 1711, ketika Banten pada masa pemerintahan Sultan Abul Zainul Abidin. Pada waktu itu, Sultan menerima tamu dari Belanda, Cornelis de Bruin, di Situ Tasikardi, Banten Lama, sekarang yang dipakai sebagai tempat pembibitan ikan.
Tamu Belanda yang datang tepat pada hari Maulid Nabi ini menanyakan apa makanan khas Banten. Sultan yang ingin menghormati tamunya kemudian memerintahkan semua makanan yang biasa disantap pada hari Maulid Nabi dikeluarkan, termasuk sate bandeng. Konon, de Bruin heran ketika menyantap sate bandeng. Ia heran, pertama karena bandeng yang biasanya beraroma lumpur, jadi harum dan sangat gurih. Kedua karena bandeng yang dihidangkan tidak ada durinya.
Sejak saat itu, menurut Halwany, sate bandeng makin spesifik sebagai makanan khas perayaan hari-hari besar agama Islam di Banten. Tidak saja saat peringatan Maulid Nabi, tapi juga Idul Fitri. Halwany juga menambahkan bahwa agaknya sate bandeng awalnya memang tidak disiapkan untuk makanan sehari-hari masyarakat pantai yang ingin serba cepat. Sate bandeng rupanya mula-mula disiapkan untuk menghadapi parade makanan pada waktu perayaan Maulid Nabi.
Predikat sate bandeng sebagai makanan khas Banten makin lama makin kokoh, terjadi perubahan dalam proses penyajiannya dari masa ke masa. Karena dianggap sebagai salah satu kuliner yang memiliki cita rasa yang tinggi, Dinas Pariwisata terus mempopulerkan sate bandeng tersebut untuk kemudian ditetapkan menjadi salah satu kuliner yang dapat dijadikan buah tangan dari Banten.
Jalan-jalan, Jangan Lupa Jajan
Jika sedang berkunjung ke Banten jangan lupa mampir untuk sekedar berjajan ria menikmati kuliner khasnya. Ada banyak  yang  bisa dinikmati, terutama jika berkunjung ke Kota Serang. Banten sendiri memiliki lima makanan khas daerah. Berdasarkan penjelasan Sapta Gumelar selaku Kepala Bidang Pengembangan Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Banten saat diwawancarai di ruangannya, ia mengatakan kelima makanan khas daerah, yaitu Sate Bebek Cibeber, Sate Bandeng, Rabeg, Nasi Uduk Empal Daging dan yang terakhir Nasi Sumsum.
Namun di antara kelima makanan tersebut yang paling dikenal oleh wisatawan adalah Sate Bandeng, karena  rasanya yang gurih dan bentuknya yang unik. Untuk mendapatkan sate bandeng sesungguhnya tidaklah sulit. Cukup berkunjung ke daerah Kaujon, maka kita sudah dapat menemukan toko-toko berjejeran yang berjualan makanan gurih khas tanah jawara ini.
Kita tidak perlu khawatir mengenai harga, karena cukup merogoh kocek sebesar 30-35 ribu rupiah saja kita sudah dapat membawa pulang satu ekor sate bandeng tersebut. Soal ketahanan, makanan ini mampu bertahan hingga dua hari satu malam, maka cocok untuk dijadikan buah tangan yang akan diberikan pada sanak saudara setelah berwisata dari Banten.

Oleh: Ale

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penantian Kampus Baru Untirta

Tembok simbol Untirta yang berada di Kampus A Untirta, Pakupatan, Serang
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) terus melakukan pembenahan untuk fasilitas proses pembelajaran. Salah satunya adalah pembangunan kampus baru Untirta yang diberdirikan di Sindangsari, kecamatan Pabuaran, kabupaten Serang. Pembangunan ini akan direncanakan rampung pada tahun 2020.
Pembangunan kampus baru Untirta Sindangsari, dilakukan mengingat kapasitas mahasiswa kian padat dan meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Hal ini membuat pihak Untirta berinisiatif membangun kampus baru, dengan jumlah dan kapasitas yang cukup menampung mahasiswa Untirta di kemudian hari.
Pasalnya kampus baru ini akan dibangun 11 gedung perkuliahan dan 4 gedung Fakultas seperti Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Pertanian (Faperta) dan Fakultas Ekonomi (FE). Ke empat Fakultas ini akan menempati kampus baru Sindangsari nanti, sedangkan kampus Untirta di Pakupatan akan digunakan untuk Di…

Jurusan Pindah, Kelas Begah

Kenalkan Teknologi Pangan di acara Open House Faperta 2018

(Foto: Suasana acara Open House Faperta 2018)
OrangeNews (10/4) - Open House Fakultas Pertanian (FAPERTA) merupakan salah satu kegiatan rutin tahunan yang diadakan di lingkungan mahasiswa Faperta Untirta. Open house tahun ini di inisiasi oleh BEM Faperta serta KBM Faperta yang diselenggarakan di Auditorium Gedung B Untirta. Dalam acara tersebut terdapat diskusi interaktif seputar informasi terbaru Faperta, pengenalan jurusan baru serta pengukuhan ormawa di lingkungan Faperta.
Dengan mengusung tema "Sambut Keluarga Baru, Pererat Silaturahmi menuju Faperta yang Harmoni" Open House kali ini menjadi ajang silaturahmi bagi keluarga besar fakultas pertanian agar terjalinnya keeratan diantara mahasiswa Faperta. 
"Open House tahun ini sebenarnya lebih ke mengenalkan keluarga baru jurusan di Fakultas Pertanian, yakni Teknologi Pangan yang ke seluruh Mahasiswa Faperta baik yang berorganisasi maupun tidak berorganisasi" ujar Dita selaku Ketua pelaksana kegiatan Open House Fapert…