Header Ads

[ OSAMI EDISI 5 ]


Secuil Luka Nusantara

Adalah Indonesia, negara yang serba ada. Semua tumbuh subur. Padi, pala, cengkeh, tembakau, kopi, reklamasi, korupsi, prostitusi, kapitalisme hingga pemimpi surga dunia yang fana; semua ada.

Adalah Indonesia, Republik kaya raya. Semua kita punya. Minyak bumi, batu bara, emas, tembaga dan segala komoditi yang diincar seluruh negara; kita punya.

Inilah Indonesia, dimana penguasa kian berlomba mendapat tahta, mencari suara dari kota hingga pelosok Nusantara. Kemudian berteman dengan kemunafikan. Menggusur rumah hingga sawah demi kepentingan perut bersama. 

Nyatanya Presiden lebih peduli kepada sepuluh anak kambing lucu daripada menemui petani Kendeng yang menahan pilu didepan istana. Bapak Gubernur pun begitu, sibuk bersilat lidah soal korupsi e-ktp daripada membatalkan izin pabrik semen. Bapak-bapak masih sehat, kan?

Kemanusiaan dinomor duakan, memilih menjadi budak kekuasaan dan bertuhankan setan. Mereka adalah kumpulan manusia yang hobi berjanji, berjanji dan berjanji lalu mengingkari seribu kali.

Inilah Indonesia, tempat paling toleransi di muka bumi (katanya). Namun dengan mudahnya porak poranda digusur opini manusia di sosial media. Perang ayat suci, perang dalil hingga melempar fatwa; semua bisa. Demi kepentingan politik dan pribadi yang mengatasnamakan agama.

Barangkali akulah si pandir itu, yang mengarungi nestapa Nusantara tanpa bisa berbuat apa-apa. Sayang, kekuasaan adalah fana. Nestapa yang abadi.

(Oleh: Shinta Ressmy - Ilmu Pemerintahan 2017, Untirta)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.